Thursday, 16 April 2026

Agenda Setting Algoritma dalam Membangun Narasi Publik dan Provokasi dalam Kemasan Hoaks

 



Pendahuluan

Di era digital, produksi dan distribusi informasi tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh manusia secara langsung, melainkan dimediasi oleh algoritma. Platform digital seperti media sosial menggunakan algoritma untuk menentukan konten apa yang muncul di hadapan pengguna. Dalam konteks ini, algoritma tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis, tetapi juga sebagai aktor yang berperan dalam membentuk narasi publik.

Fenomena ini menjadi semakin problematis ketika algoritma digunakan—secara sengaja atau tidak—untuk memperkuat penyebaran hoaks dan provokasi. Informasi yang bersifat sensasional, emosional, dan kontroversial cenderung lebih “disukai” oleh algoritma karena menghasilkan interaksi tinggi. Akibatnya, hoaks tidak hanya menyebar, tetapi juga terstruktur dalam narasi yang sistematis.

Esai ini membahas bagaimana algoritma berperan dalam agenda setting modern, bagaimana ia membentuk narasi publik, serta bagaimana hoaks dikemas sebagai alat provokasi dalam lanskap informasi digital.

Teori Agenda Setting dalam Era Digital

Teori agenda setting awalnya dikemukakan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw (1972), yang menyatakan bahwa media tidak menentukan apa yang harus dipikirkan masyarakat, tetapi menentukan apa yang harus dipikirkan tentang (what to think about).

Dalam era digital, peran media tradisional sebagai agenda setter telah bergeser ke algoritma. Jika sebelumnya editor menentukan berita utama, kini algoritma yang menentukan konten mana yang tampil di feed pengguna.

Perubahan ini melahirkan konsep baru:

  • Algorithmic Agenda Setting
  • Data-driven narrative construction

Algoritma sebagai Gatekeeper Informasi

Dalam teori komunikasi klasik, gatekeeper adalah pihak yang menentukan informasi mana yang disampaikan kepada publik. Kini, algoritma mengambil alih fungsi tersebut.

Karakteristik algoritma sebagai gatekeeper:

  • Berbasis data perilaku pengguna
  • Mengutamakan engagement (like, share, comment)
  • Bersifat personalisasi

Menurut Tarleton Gillespie (2014), algoritma memiliki kekuatan untuk mengkurasi realitas sosial dengan cara yang tidak transparan.

Implikasinya:

  • Realitas menjadi subjektif dan terfragmentasi
  • Pengguna hanya melihat informasi yang sesuai preferensinya
  • Terjadi bias informasi

Logika Algoritma: Engagement over Truth

Algoritma dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna, bukan kebenaran informasi. Konten yang memiliki karakteristik berikut lebih diprioritaskan:

  • Emosional (marah, takut, sedih)
  • Sensasional
  • Kontroversial

Hoaks sering kali memenuhi karakteristik ini, sehingga:

  • Lebih cepat viral
  • Lebih luas jangkauannya
  • Lebih sulit dikendalikan

Dalam perspektif Shoshana Zuboff (2019), fenomena ini merupakan bagian dari surveillance capitalism, di mana data dan perilaku pengguna dimonetisasi.

Konstruksi Narasi Publik oleh Algoritma

Algoritma tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membentuk narasi publik melalui:

1. Amplifikasi Konten

Konten tertentu diperkuat secara masif.

2. Repetisi

Informasi yang sering muncul dianggap benar (illusory truth effect).

3. Framing

Cara penyajian informasi mempengaruhi persepsi.

4. Polarisasi

Algoritma memperkuat perbedaan pandangan.

Dalam konteks ini, narasi publik tidak lagi dibentuk secara organik, tetapi melalui proses yang dimediasi algoritma.

Hoaks sebagai Instrumen Provokasi

Hoaks tidak lagi sekadar informasi palsu, tetapi telah menjadi alat strategis dalam membentuk opini publik.

Karakteristik Hoaks Modern

  • Dikemas secara profesional
  • Menggunakan data atau fakta parsial
  • Memanfaatkan emosi

Tujuan Provokasi

  • Menciptakan konflik sosial
  • Melemahkan kepercayaan publik
  • Mengarahkan opini politik

Dalam perspektif Cass Sunstein (2017), fenomena ini diperkuat oleh echo chambers yang membuat individu terpapar pada informasi yang memperkuat keyakinannya.

Ekosistem Disinformasi: Aktor dan Mekanisme

Penyebaran hoaks melibatkan berbagai aktor:

1. Produsen Konten

Individu atau kelompok yang menciptakan hoaks.

2. Platform Digital

Menyediakan infrastruktur distribusi.

3. Algoritma

Mengkurasi dan memperkuat konten.

4. Pengguna

Menyebarkan ulang informasi.

Mekanisme ini menciptakan siklus:

Hoaks → Viral → Engagement tinggi → Diperkuat algoritma → Viral lebih luas

Dampak terhadap Masyarakat dan Negara

1. Polarisasi Sosial

Masyarakat terpecah dalam kelompok-kelompok yang saling berlawanan.

2. Delegitimasi Institusi

Kepercayaan terhadap pemerintah dan media menurun.

3. Radikalisasi

Individu terdorong pada pandangan ekstrem.

4. Ancaman Keamanan Nasional

Hoaks dapat digunakan sebagai alat perang informasi.

Kritik terhadap Netralitas Algoritma

Algoritma sering dianggap netral, padahal:

  • Dibuat oleh manusia
  • Mengandung bias
  • Dipengaruhi kepentingan ekonomi

Dalam perspektif Michel Foucault, pengetahuan selalu terkait dengan kekuasaan. Algoritma menjadi alat kekuasaan baru dalam mengendalikan informasi.

Strategi Mengendalikan Agenda Setting Algoritma

1. Regulasi Platform Digital

  • Transparansi algoritma
  • Tanggung jawab platform
  • Pengawasan konten

2. Literasi Digital dan Kritis

Masyarakat harus mampu:

  • Memverifikasi informasi
  • Memahami cara kerja algoritma
  • Menghindari bias

3. Intervensi Algoritmik

  • Penurunan distribusi hoaks
  • Prioritas konten berkualitas
  • Deteksi otomatis disinformasi

4. Penguatan Narasi Positif

  • Produksi konten edukatif
  • Kampanye literasi
  • Kolaborasi multi-pihak

5. Peran Perpustakaan dan Knowledge Management

Sebagai:

  • Kurator informasi
  • Pusat literasi
  • Penjaga kualitas pengetahuan

Menuju Ekosistem Informasi yang Sehat

Ekosistem informasi yang sehat membutuhkan:

  • Keseimbangan antara teknologi dan etika
  • Kolaborasi antara negara, platform, dan masyarakat
  • Penguatan nilai-nilai kritis

Kesimpulan

Algoritma telah mengubah cara narasi publik dibentuk melalui mekanisme agenda setting yang berbasis data dan engagement. Dalam kondisi ini, hoaks menjadi instrumen provokasi yang efektif karena didukung oleh logika algoritma.

Tantangan utama bukan hanya pada teknologi, tetapi pada bagaimana manusia mengelola dan mengendalikan teknologi tersebut. Dengan pendekatan regulasi, literasi, dan penguatan institusi, dampak negatif algoritma dapat diminimalkan.

Pada akhirnya, pertarungan utama dalam era digital adalah pertarungan narasi—dan algoritma menjadi medan utamanya.

Daftar Pustaka (APA Style)

Gillespie, T. (2014). The relevance of algorithms. Media Technologies.

McCombs, M., & Shaw, D. (1972). The agenda-setting function of mass media. Public Opinion Quarterly, 36(2), 176–187.

Sunstein, C. R. (2017). #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media. Princeton University Press.

Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism. PublicAffairs.

Foucault, M. (1972). The Archaeology of Knowledge. Pantheon Books.

Wardle, C., & Derakhshan, H. (2017). Information Disorder. Council of Europe.

0 comments: